Hari Libur, Perizinan dan Lauk Ayam di Gontor

Hari Libur, Perizinan dan Lauk Ayam di Gontor

Gontor menerapkan hari libur belajar pada hari Jumat. Bukan seperti lembaga pendidikan lainnya, yang diterapkan pada hari minggu. Hari jumat ditetapkan sebagai hari libur, karena hari ini adalah hari yang mulia (sayyidul ayyam) dibanding hari yang lainnya, dimana para muslimin diwajibkan untuk sholat jumat. Mengenai libur hari jumat di Gontor ini memang patut menjadi perhatian, karena terkait dengan perizinan keluar pondok yang lumayan ramai dan lauk makan yang lumayan enak hingga menyebabkan antrian makan yang panjang.

Libur Hari Jumat

Tidak mudah memang untuk nenerapkan libur belajar mingguan pada hari jumat. Karena di beberapa lembaga lain, penerepan libur pada hari jumat ini bisa dibilang tidak efektif. Karena pada hari jumat biasanya santri serentak libur, tapi sayangnya saat hari minggunya pun mereka banyak izin pulang, bahkan sebagian tidak masuk kelas. Untuk yang kedua ini biasanya terpengaruh dengan liburan sekolah umum, jadi hari itu mereka ingin libur juga.

Hari jumat di Gontor, meskipun libur, tapi kegiatannya sangat padat. Mulai dari olah raga pagi, dilanjutkan dengan bersih-bersih asrama dan dilanjutkan dengan kegiatan bebas. Saat inilah ada yang sibuk dengan kegiatan ekstra kulikulernya, ada juga yang sibuk dengan mengajukan perizinan ke luar pondok. Tapi ada juga sebagian yang bersantai dan membersihkan lemari masing-masing setelah seminggu sibuk dengan kegiatan belajar.

BACA JUGA   Pengurus Asrama di Gontor Bukan Ustadz, Tapi Mereka adalah Santri Kelas 5. Berikut Tugas-tugasnya

Mereka yang Izin ke Luar Pondok

Mereka yang izin keluar pondok biasanya dengan berbagai alasan. Mulai dari yang ingin mengambil uang di ATM, membeli buku, hingga hanya ingin berjalan-jalan sekitaran Kota Ponorogo saja. Ada juga yang sebenarnya hanya ingin membeli makanan di luar pondok seperti es campur, bakso, dll yang sebenarnya itu juga sudah ada di pondok. Initinya sih mereka untuk mencari suasana baru.

Mereka yang izin keluar pondok, tentunya yang saat itu punya uang lebih, karena jika tidak, pasti pilihannya tetap saja menghabiskan hari itu di pondok dengan kegiatan rutin seperti biasa pada hari jumat.

Lauk Ayam                          

Tapi bagi mereka yang saat itu tidak izin ke luar pondok tidak perlu bersedih, karena ada hiburan berupa lauk makan yang lumayan enak – ukuran anak pondok. Apalagi kalau bukan ayam, yang terbilang jarang dikonsumsi oleh santri. Mungkin ini bukan hanya di Gontor, tapi juga di pondok-pondok lainnya yang mengerti makanan apa yang baik untuk para santrinya.

Maka pantas jika antri makan siang setiap hari jumat ini sangat “fenomenal” dibanding hari-hari lainnya. Tapi tidak perlu khawatir, ini bukan antrian untuk pembagian sembako yang ada menjelang kontestasi politik yang rawan pesertanya luka-luka karena berdesak-desakan. Ini antrian anak santri Gontor yang rapi dengan membawa piring melamin dan kartu makan (bitokoh akl) yang panjangnya mungkin puluhan meter.

BACA JUGA   Pentingnya Sebuah Buku Diari di Gontor

Mereka bisa rapi berbaris seperti ini selain karena larangan menyerobot antrian secara tersirat yang ada di Pondok, juga karena ada Bagian Dapur yang biasanya selain membagikan porsi makan santri, sebagian yang lain memperhatikan dengan wajah yang garang.

Tapi sebenarnya itu wajah settingan saja, karena sebenarnya mereka ini adalah santri pilihan yang rela berjibaku memasak nasi dan lauk setiap harinya dalam jumlah yang besar. Bisa dibayangkan, bagaimana hebatnya beberapa anak berusia belasan tahun bisa memasak setiap harinya untuk 3 kali makan santri dengan jumlah ribuan. Mereka dalam kesehariannya juga harus berinteraksi dengan pak e mbok e yang membantu teknis proses memasak untuk konsumsi keseharian para santri. Sunggun melelahkan memang. Karena itu antrian yang rapi akan membuat hati mereka tenang.

Antum dulu juga termasuk dalam antrian puluhan meter itu kan?

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *