Sosok Guru Sabar dan Murah Senyum itu Kini Telah Pergi

Sosok Guru Sabar dan Murah Senyum itu Kini Telah Pergi

Saya, admin blog ini, Iwan Wahyudi adalah alumni Gontor tahun 2004. Sebagaimana anak kelas intensif lainnya, saya menyelesaikan pendidikan di PM Gontor selama 4 tahun. Tepatnya sepanjang 2000 – 2004 saya nyantri di Gontor. Setahun selanjutnya saya kuliah (sebagai bentuk pengabdian wajib) selama setahun di ISID, yang saat ini berganti nama menjadi Unisda.

Di bangku kuliah inilah kami lebih intens bertemu dengan Ustadz-ustadz senior Gontor. Dari sekian Ustadz yang saya ingat saat itu, salah satunya adalah, Ustadz Samsul Hadi Abdan. Sosok guru yang penyabar dan murah senyum, sifatnya sama dengan Almagfirullah, Alm. Ustadz Dihyatun Masqon.

Yang paling saya ingat pada sosok Ust Samsul Hadi Abdan adalah beliau ini sangat mahir membaca kitab kuning. Saya pribadi sangat ingat bagaimana beliau dengan ikhlasnya mengajar diluar jam kuliah. Ya, saat itu sekitar tahun 2005 saat saya masih di ISID, dalam sepekan beliau 1-2 kali datang ke Masjid Jami’ ISID untuk sekedar mengajari kami baca kitab klasik. Saya lupa ini inisiatif beliau sendiri, atau permintaan kami para mahasiswa. Yang pasti beliau sangat nyaman dengan mengajari kami belajar baca kitab dengan metode simakan.

BACA JUGA   Hari Libur, Perizinan dan Lauk Ayam di Gontor

Seingat saya tidak banyak yang datang. Karena sore hari sebagian besar mahasiswa biasanya rutin dengan kegiatan olah raga masing-masing. Tapi beliau tetap konsisten dan disiplin mengajari kami. Tidak terpengaruh dengan berapa pun jumlah peserta yang datang. Kami bisa belajar bagaimana keikhlasan guru dalam mengajar dari beliau langsung saat itu.

Tak terasa 15 tahun berlalu. Hari ini beliau telah dipanggil Rabbnya. Semua merasa kehilangan. Bukan hanya keluarga, tapi seluruh Asatidz dan semua santri dan alumni merasa kehilangan.

Selamat jalan guru dan panutanku. Mungkin saya pribadi belum bisa menjadi pribadi yang bermanfaat penuh bagi umat sebagaimana harapan antum. Tapi setidaknya dari antum kami belajar, bahwa untuk menjadi pendidik sejati dibutuhkan niat yang kuat dan kesbaran tiada batas. Yang itu Insaa Alllah telah kami lihat pada sosok antum.

Selamat jalan ….. Semoga Allah menerima amal  ibadah antum. Allahumma Amiin .

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *