Sekolah Alam: Carilah Lembaga Pendidikan yang Belajar Merubah Mindset Anak

Sekolah Alam: Carilah Lembaga Pendidikan yang Belajar Merubah Mindset Anak

Hari ini adalah pertama kali saya sempatkan untuk mencari sekolah kakak. Letaknya tidak jauh dari sekolah TK nya. Tepatnyahanya sekitar 550 meter dari sekolah TK nya saat ini.

Yang menarik dari sekolah ini adalah bagaimana konsep yang ditawarkan oleh pendidiknya. Kebetulan saat itu saya bertemu dengan Kepala Sekolahnya, kami menyempatkan diri untuk ngobrol dan sharing tentang pendidikan. Maklum sebelum merantau ke Jakarta saya juga pernah menjadi guru selama 5 tahun di tanah kelahiran.

Yang membuat saya kagum adalah bagaimana Kepala Sekolah ini menyampaikan bahwa yang “dijual” sekolahnya bukanlah gedung, tapi konsep pendidikan. Tentu sangat senang berengkrama dengan seorang yang sangat concern dengan dunia pendidikan seperti ini, berasa mengingat lagi apa yang perna saya jalani belasan tahun lalu hingga pernah mengajar di beberapa tempat.

Konsep yang ditawarkan yang paling terlihat adalah bagaimana melihat anak sebagai objek pendidikan yang bukan hanya sebagai tugas guru untuk mendidiknya, tapi juga perlu peran serta orang tua yang akan mewarnai sifat dan karekter anak.

“Gak cukup orang tua hanya berkewajiban membayar biaya sekolah dan berharap anaknya menjadi baik sesuai yang diinginkan. Karena memang tugas pendidikan sesungguhnya juga tugas orang tua.

Karena itulah yang kami jual adalah konsep pendidikan, bukan gedung. Karena jika menjual gedung, apa sih yang bisa kami jual dengan usia sekolah yang baru pindah dan kurang dari satu tahun ini?”

Memang benar juga sih. Kebanyakan orang tua banyak “terbius” dengan bangunan, untuk menyematkan lebel bagus atau tidaknya sebuah sekolah. Padahal gedung memang penting, tapi pondasi pendidikan sesungguhnya berada pada ruh pendidiknya.

Karena berapa banyak sekolah dengan gedung yang mewah yang biasanya berbanding lurus dengan biaya pendidikannya, tapi tidak bisa membendung pengaruh buruk lingkungan sekitarnya. Sebaliknya tidak sedikit sekolah yang tampak dari tampilan bersahaja, tapi bisa menanamkan nilai-nilai yang baik bagi anak didiknya, meskipun setiap harinya tetap bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Jadi parameternya sebenarnya ada pada ruh pendidiknya. Bukan pada lengkapnya fasilitas yang ada di sekolah itu. Ruh pendidik inilah yang akan menular pada anak-anak. Ruh yang senantiasa menjaga nilai-nilai universal dalam berinteraksi dengan sesama.

Penting juga bagi seorang pendidik untuk mempunyai kemampuan merubah mindset anak. misalnya menjadikan anak punya mental yang kuat, tidak cengeng. Seperti di sekolah ini, karena memang bentuknya sekolah alam, maka yang ditanamkan adalah bagaimana supaya anak didik bisa tetap survive dengan kondisi yang ada di alam saat mereka sedang belajar.

“Anak didik sedini mungkin untuk kita didik tidak cengeng dengan kondisi yang ada. Karena lingkungan kita bersinggungan dengan alam, tentu ada fasilitas yang rawan rusak, misalnya atap tempat belajar yang bocor. Tapi jika hal itu terjadi pun, kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan.

Misalnya ada atap kelas yang bocor, karena hujan dan angin kencang, maka yang kami katakan pada anak adalah,

“Ayo anak-anak itu ada lapangan, kita belajar di lapangan sambil hujan-hujanan.”

Bukan malah menghentikan proses belajar karena sebab seperti itu. itulah mungkin salah satu keunggulan sekolah alam yang mengusakan setiap anak didiknya untuk bisa lebih survive sejak dini.

Jadi, sebenarnya menyekolahkan kakak di sekolah alam ini juga bagi saya sambil belajar lagi karena keingin tahuan saya yang besar. Mengapa kini konsep sekolah alam ini mulai banyak bermunculan dan diterima di tengah-tengah masyarakat?

Jawaban tentang ini nanti akan saya bahas pada postingan-postingan selanjutnya di blog ini dengan kategori Pendidikan Indonesia. jadi jangan bosan untuk tetap berkunjung di blog saya ini ya……

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *